CIAMISPOST – Mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat tidak cukup hanya melalui kegiatan kerja bakti sesaat. Dibutuhkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga hingga tingkat desa agar tercipta lingkungan yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Program Bersih Se-Kecamatan (Berseka), sebuah program pembinaan yang tidak sekadar mencari desa terbersih, tetapi membangun budaya peduli lingkungan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Program yang digagas Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis ini menjadi salah satu upaya mendorong desa, kelurahan, dan kecamatan memiliki sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sekretaris DPRKPLH Kabupaten Ciamis, Aris Taufik Abadi, ST, menjelaskan, rangkaian Berseka 2026 diawali dengan pembinaan kepada seluruh kecamatan sejak pertengahan April. Selanjutnya, pada Mei hingga awal Juni, tim melakukan pemantauan sekaligus penilaian terhadap dua desa atau kelurahan perwakilan dari masing-masing 27 kecamatan di Kabupaten Ciamis.
“Prosesnya tidak langsung penilaian. Pertengahan April kami melakukan pembinaan terlebih dahulu, kemudian pada Mei dilakukan pemantauan sekaligus penilaian. Penilaian ini bukan semata-mata menentukan juara, tetapi menjadi bagian dari pembinaan agar pengelolaan lingkungan di desa semakin baik,” ujar Aris.
Menurutnya, hasil penilaian kemudian dibahas bersama lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan pengelola bank sampah agar evaluasi tidak hanya melihat kondisi fisik lingkungan, tetapi juga tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Kami ingin mengetahui sejauh mana masyarakat ikut terlibat. Keberhasilan menjaga lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa atau kecamatan, tetapi harus menjadi gerakan bersama masyarakat,” katanya.
Aris menjelaskan, Berseka menggunakan enam indikator utama dalam proses penilaian.
Indikator pertama adalah kawasan permukiman yang meliputi kebersihan lingkungan, penghijauan, pengelolaan sampah rumah tangga, hingga pemanfaatan sampah organik maupun anorganik.
“Permukiman menjadi cerminan budaya masyarakat. Kami melihat apakah lingkungannya bersih, ada penghijauan, bagaimana pengelolaan sampahnya, sampai bagaimana sampah itu dimanfaatkan sehingga tidak hanya berakhir di tempat pembuangan,” jelasnya.
Aspek berikutnya adalah kondisi jalan, baik jalan desa, kabupaten, maupun jalan nasional yang melintasi wilayah tersebut. Penilaian meliputi kebersihan bahu jalan, drainase, penataan ruang publik, hingga pengelolaan sampah di sekitar pedagang kaki lima (PKL).
“Kalau ada PKL, kami melihat bagaimana penataannya sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan, tetapi limbah dan sampahnya tidak mencemari lingkungan sekitar,” tuturnya.
Drainase terbuka juga menjadi perhatian khusus mengingat masih kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah. Tim menilai tidak hanya kebersihan saluran, tetapi juga upaya pemerintah desa dan masyarakat dalam mencegah kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Kami ingin melihat bagaimana langkah pencegahannya. Persoalan sampah bukan hanya dibersihkan setelah menumpuk, tetapi bagaimana masyarakat dibiasakan agar tidak membuang sampah ke saluran air,” ujarnya.
Selain itu, lingkungan perkantoran, khususnya kantor desa dan kelurahan, turut menjadi objek penilaian. Kantor pemerintahan diharapkan menjadi teladan dalam penerapan pemilahan sampah, pengelolaan sampah organik, serta pemanfaatan komposter.
“Kantor desa harus menjadi contoh. Minimal sudah menerapkan pemilahan sampah sehingga masyarakat juga terdorong melakukan hal yang sama,” ungkap Aris.
Keberadaan bank sampah juga menjadi indikator penting karena menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan.
Berdasarkan hasil penilaian, Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, berhasil meraih Juara I Berseka 2026. Juara II diraih Desa Karyamulya, Kecamatan Cisaga, sedangkan Juara III diraih Kelurahan Cigembor.
Sementara itu, Kecamatan Rancah ditetapkan sebagai Kecamatan Pembina Terbaik atas keberhasilannya membina dan mengoordinasikan desa-desa di wilayahnya dalam menjalankan Program Berseka.
“Peran kecamatan sangat penting karena menjadi koordinator sekaligus pembina bagi desa dan kelurahan. Jadi yang kami nilai bukan hanya desanya, tetapi juga bagaimana kecamatan melakukan pembinaan,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kabupaten Ciamis memberikan bantuan stimulan sebesar Rp75 juta bagi Juara I, Rp50 juta untuk Juara II, Rp25 juta bagi Juara III, serta Rp25 juta bagi Kecamatan Pembina Terbaik.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Ciamis pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kabupaten Ciamis, 11 Juni 2026.
Aris menegaskan, tujuan utama Berseka bukan sekadar menghasilkan pemenang, melainkan membangun kesadaran masyarakat agar mampu mengelola sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan, pemanfaatan sampah organik, serta mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Target utama Berseka bukan menghasilkan pemenang, tetapi membangun budaya bersih di tengah masyarakat. Kalau kesadaran itu sudah tumbuh, maka persoalan sampah akan jauh lebih mudah ditangani karena dimulai dari rumah tangga, lingkungan permukiman, hingga tingkat desa dan kecamatan,” pungkasnya.
Melalui Berseka, Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap gerakan peduli lingkungan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi budaya yang terus tumbuh di tengah masyarakat sehingga desa-desa di Tatar Galuh semakin bersih, sehat, dan mampu menjadi percontohan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.











