CIAMISPOST – Rektor Universitas Galuh (Unigal), Prof. Dr. Dadi, M.Si., menilai bahwa penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi yang tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan tinggi.
Menurutnya, transformasi digital telah mendorong perguruan tinggi untuk beradaptasi dengan model pembelajaran yang lebih fleksibel, termasuk sistem hybrid learning yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan daring.
“Perkembangan teknologi informasi adalah fakta yang tidak bisa kita tolak. PJJ itu bukan menggantikan sepenuhnya, tetapi menjadi alat yang bisa digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, Unigal pada prinsipnya siap apabila skema pembelajaran jarak jauh kembali diterapkan secara lebih luas. Pengalaman selama masa pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa dosen dan mahasiswa Unigal mampu beradaptasi dengan cepat terhadap sistem pembelajaran digital.
Bahkan, menurutnya, sebagian besar dosen di Unigal telah terbiasa menggunakan berbagai platform pembelajaran daring, meskipun penerapannya tetap harus disesuaikan dengan karakter mata kuliah dan kebutuhan akademik masing-masing program studi.
“Sejak pandemi, kita sudah melewati proses pembelajaran daring. Secara teknis dosen sudah siap, hanya saja memang tidak semua mata kuliah bisa dilakukan secara full online,” jelasnya.
Prof. Dadi menegaskan, mata kuliah yang bersifat praktik, laboratorium, maupun pembentukan keterampilan dasar tetap memerlukan pembelajaran tatap muka untuk menjaga kualitas capaian pembelajaran.
Karena itu, ia menilai model terbaik yang relevan saat ini adalah kombinasi antara pembelajaran daring dan luring, bukan sistem yang sepenuhnya online.
“Yang ideal itu bukan full online, tapi kombinasi. Karena ada materi yang memang harus bertemu langsung di kelas,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Unigal juga terus menyesuaikan diri dengan berbagai kebijakan pemerintah terkait efisiensi dan fleksibilitas kerja, termasuk kemungkinan pengaturan aktivitas kampus yang lebih adaptif tanpa mengganggu layanan akademik.
Menurutnya, prinsip utama perguruan tinggi adalah memastikan kegiatan pembelajaran tetap berjalan efektif dalam kondisi apa pun.
“Apapun skemanya, kegiatan akademik harus tetap berjalan. Itu prinsip utama kami,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya kedisiplinan dan interaksi aktif dalam pelaksanaan PJJ. Ia menekankan bahwa pembelajaran daring tidak boleh bersifat satu arah, melainkan harus tetap melibatkan partisipasi aktif mahasiswa.
“Kalau online, dosen harus tetap interaktif, mahasiswa juga tidak boleh pasif. Jangan hanya transfer materi,” ujarnya.
Prof. Dadi juga mengingatkan bahwa apabila PJJ diterapkan secara luas secara nasional, pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur digital di seluruh perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta, agar tidak terjadi kesenjangan kualitas pembelajaran.
“Kalau ini diterapkan lebih luas, harus ada pemerataan fasilitas. Jangan sampai PTN lebih siap, sementara PTS tertinggal,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Unigal tetap optimistis dan siap menghadapi berbagai bentuk transformasi sistem pembelajaran di masa depan. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga kualitas pendidikan, relevansi kurikulum, dan interaksi akademik yang sehat antara dosen dan mahasiswa. ***TAA









