CIAMISPOST.ID – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya menyampaikan pesan publik setelah resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Peralihan ini terjadi setelah sang ayah dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal eskalasi perang besar di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan penting tersebut dibacakan oleh seorang pembawa berita di jaringan televisi Press TV pada Kamis (12/3/2026) waktu setempat. Dalam pesan itu, Mojtaba menyerukan persatuan nasional Iran sekaligus menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan krusial terhadap musuh-musuh Teheran.
Ancaman Terhadap Pangkalan Militer AS
Lebih lanjut, Khamenei mengeluarkan ancaman langsung terhadap kehadiran militer Washington di kawasan tersebut. Ia mendesak agar seluruh pangkalan militer AS segera angkat kaki jika tidak ingin berisiko menjadi target serangan yang menghancurkan.
“Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang,” tegas Khamenei dalam pernyataannya, seperti dilansir oleh Al Jazeera.
Meskipun mengklaim bahwa Iran tetap ingin mempertahankan hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangganya, ia menekankan bahwa operasi militer terhadap instalasi AS akan terus dilanjutkan. Untuk mendukung langkah perlawanan ini, Khamenei menyebutkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata sekutu, termasuk proksi di Yaman dan Irak, siap memainkan peran penting dalam pertempuran.
Apresiasi Militer dan Tanggapan Pengamat
Di tengah konflik terbuka ini, Mojtaba Khamenei juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada angkatan bersenjata Iran. Menurutnya, militer telah sukses menjaga keutuhan negara dari potensi perpecahan serta dominasi asing.
“Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang,” ungkapnya.
Meski sarat dengan nada perlawanan, sejumlah analis memberikan catatan kritis terhadap pesan tersebut. Analis Timur Tengah, Zeidon Alkinani, menilai fokus pidato yang hanya bertumpu pada isu militer membuat banyak persoalan domestik terabaikan. Berikut beberapa poin kritiknya:
- Menghindari Reformasi: Fokus pada perlawanan bersenjata menjadi alasan pemimpin tertinggi untuk menghindari diskusi mengenai krisis ekonomi dan pembangunan sipil.
- Beda Frekuensi: Pesan agresif ini dinilai bertentangan dengan diplomasi Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya memberi sinyal terbuka untuk mengakhiri perang dengan syarat tertentu.
- Isu Legitimasi Fisik: Pesan yang dibacakan oleh penyiar televisi—bukan pidato tatap muka—semakin menyuburkan rumor bahwa Mojtaba Khamenei mungkin terluka atau tewas dalam serangan sebelumnya.
Di sisi lain, Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King’s College London, menilai retorika ini mengindikasikan bahwa Teheran tidak gentar terhadap ancaman AS di bawah kepemimpinan Donald Trump. “Alih-alih perubahan sikap yang mungkin diharapkan pemerintahan Trump dari pemimpin yang baru, kita justru mendengar hal yang sama (konsisten),” jelas Pinfold.
Bagi kalangan dalam negeri, pesan ini disambut positif. Zohreh Kharazmi, akademisi dari University of Tehran, mengapresiasi keberanian pemimpin baru mereka di tengah badai ancaman. “Keamanan yang berkelanjutan adalah hak paling dasar dari sebuah bangsa. Khamenei menyampaikan posisi sah yang didukung oleh jutaan warga Iran,” pungkasnya.











