CIAMISPOST.ID – Sejumlah media asing, termasuk yang bermarkas di Israel maupun Arab Saudi, menyoroti keputusan Indonesia yang akan keluar dari Board of Peace atau Dewan Perdamaian inisiasi Trump. Sorotan ini muncul setelah Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan ketegasannya terkait posisi Indonesia.
Misalnya, The Times of Israel pada Jumat (6/3/2026) menerbitkan artikel berjudul "Indonesian president says he’ll bolt Board of Peace if it doesn’t help Palestinians" di situs web mereka. Dalam berita tersebut, disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap menarik Indonesia dari Board of Peace jika dewan tersebut tidak memberikan manfaat nyata bagi Palestina.
Pernyataan tegas ini disampaikan dalam pertemuan dengan sejumlah kelompok Islam di dalam negeri. Prabowo berusaha meyakinkan para pengkritiknya terkait keputusan Indonesia untuk bergabung dengan forum tersebut.
Sorotan Media Israel dan Evaluasi Keanggotaan
"Aktivitas Board of Peace sendiri saat ini sedang ditangguhkan karena pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel," tulis The Times of Israel.
Mengutip pernyataan pemerintah RI yang dirilis pada Jumat, Prabowo menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam forum itu akan terus dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi Palestina dan kepentingan nasional Indonesia.
Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace, serta rencana pengiriman pasukan ke International Stabilization Force (ISF) di Gaza, sebelumnya menuai kritik dari sejumlah pakar dan kelompok Muslim di dalam negeri. Mereka menilai langkah tersebut berpotensi mengaburkan posisi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat perjuangan Palestina.
Tidak hanya menayangkan pernyataan Presiden Prabowo, The Times of Israel juga mengulas tentang keanggotaan Dewan Perdamaian, posisi Indonesia dalam konflik Israel-Palestina, dan upaya mendekat ke AS. Artikel tersebut menyebutkan bahwa keputusan Indonesia bergabung muncul ketika Presiden Prabowo berupaya memperkuat hubungan dengan pemerintahan Trump.
Respon Media Arab dan Dukungan Domestik
Keputusan Presiden Prabowo yang "mengancam" akan keluar dari Board of Peace jika tak menguntungkan Palestina juga disorot sejumlah media asing lainnya, termasuk Kantor Berita Reuters, AFP, hingga Arab News.
Arab News contohnya, menerbitkan artikel berjudul "Indonesia will ‘quit peace board unless Palestinians benefit’" pada Sabtu (7/3/2026). Berita itu salah satunya menukil pernyataan perwakilan FPI, Hanif Alatas, yang menyambut baik keputusan Presiden Prabowo untuk mundur dari forum tersebut jika tidak membawa manfaat bagi rakyat Palestina atau tidak sejalan dengan kepentingan nasional.
“Presiden mengatakan bahwa jika ia melihat tidak ada lagi manfaat bagi Palestina dan hal itu tidak sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia, maka ia akan menarik diri,” ucap Hanif yang dikutip media tersebut.
Media asing juga mengutip pernyataan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendesak pemerintah untuk keluar dari Board of Peace karena menilai forum tersebut tidak efektif dalam mewujudkan perdamaian sejati di Palestina.
Negara Anggota dan Kontribusi Pasukan
Presiden Prabowo sebelumnya menghadiri pertemuan perdana Board of Peace di Washington bulan lalu dan berjanji akan mengirim 8.000 pasukan Indonesia ke Gaza sebagai bagian dari ISF. Puluhan negara diketahui telah bergabung dalam forum ini.
Selain Indonesia, AS, dan Israel, berikut adalah beberapa negara yang tergabung:
- Argentina, Albania, Armenia, Azerbaijan
- Bahrain, Belarus, Bulgaria, Kamboja
- Mesir, Arab Saudi, Turkiye, UEA
- Hungaria, Yordania, Kazakhstan, Kosovo
- Kuwait, Maroko, Mongolia, hingga Pakistan
Namun, beberapa sekutu dekat Amerika Serikat seperti Spanyol, Perancis, dan Jerman memilih tidak bergabung karena khawatir forum tersebut dapat melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dari 28 negara anggota, pembagian peran meliputi:
- Mesir dan Yordania: Setuju melatih pasukan polisi Palestina yang baru.
- Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania: Akan mengirim pasukan untuk ISF.
Indonesia bahkan menyatakan siap mengirim 8.000 tentara pada bulan Juni, menjadikannya kontributor pasukan terbesar dalam misi tersebut.











