CIAMISPOST.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak gentar menghadapi ancaman invasi darat dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump justru menilai pengerahan pasukan darat hanya akan menjadi langkah yang sia-sia.
Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News di Teheran, Araghchi secara tegas menolak anggapan bahwa Iran merasa takut. Ia menyatakan negaranya telah bersiap sepenuhnya untuk skenario terburuk.
Kesiapan Iran Hadapi Bencana Perang
Saat ditanya mengenai kemungkinan invasi darat, Araghchi memberikan jawaban menantang. Menurutnya, langkah tersebut justru akan menjadi malapetaka bagi pasukan agresor.
“Tidak, kami menunggu mereka. Karena kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” ujar Araghchi, Kamis (5/3) waktu setempat.
Ketegangan ini memuncak setelah agresi besar-besaran AS dan Israel dimulai pada Sabtu (28/2). Araghchi menekankan bahwa Iran belum meminta gencatan senjata dan berkomitmen untuk terus melawan. Ia juga menyinggung serangan di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 171 anak-anak, serta menyalahkan militer AS dan Israel atas insiden tersebut.
“Faktanya adalah kami tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat, terutama dengan pemerintahan ini,” tambahnya, sembari menyebut negosiasi sebelumnya dinodai oleh serangan mendadak.
Trump: Mereka Sudah Kehilangan Segalanya
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meremehkan tantangan Iran. Melalui sambungan telepon kepada NBC, Trump menyebut pengiriman pasukan darat adalah hal yang tidak perlu karena Iran dianggap sudah lumpuh.
“Itu buang-buang waktu. Mereka telah kehilangan segalanya. Mereka telah kehilangan angkatan laut mereka. Mereka telah kehilangan semua yang bisa hilang dari mereka,” kata Trump.
Trump juga mengindikasikan keinginannya untuk melakukan pembersihan struktur kepemimpinan Iran secara cepat daripada melakukan pembangunan ulang jangka panjang. Ia bahkan mengklaim telah memiliki kandidat pemimpin baru untuk Iran pasca-serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
“Kita tidak menginginkan seseorang yang akan membangun kembali selama periode 10 tahun. Kita ingin masuk dan membersihkan semuanya dengan cepat,” pungkas Trump.











