CIAMISPOST.ID – Kepedulian terhadap korban bencana ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis dengan turun langsung membantu warga terdampak jebolnya tanggul Sungai Citalahab di Kecamatan Pamarican.
Bencana tersebut terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu Sungai Citalahab pada 9 dan 16 Februari 2026.
Tanggul yang berada di Desa Sukahurip jebol sehingga air meluap ke area persawahan dan permukiman warga di Desa Sukahurip dan Bangunsari.
Akibat peristiwa itu, sebanyak 260 rumah terdampak dengan total 282 kepala keluarga atau 831 jiwa harus menghadapi dampak banjir dan melakukan pembersihan lingkungan secara besar-besaran.
Sebagai bentuk respons kemanusiaan, Lapas Ciamis menerjunkan tim yang dipimpin Kepala Lapas Kelas IIB Ciamis, Supriyanto yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Kasi Binadik dan Giatja), James P. Tampubolon.
Bersama jajaran petugas, sebanyak 11 warga binaan pemasyarakatan (WBP) ikut dilibatkan dalam kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan pada Rabu (18/2/2026).
Sebelum menuju lokasi, pihak Lapas terlebih dahulu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis serta pemerintah desa setempat agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Setibanya di lokasi, rombongan langsung bergabung dengan warga untuk membersihkan lumpur, sampah, serta material sisa banjir yang mengendap di rumah dan lingkungan.
Mereka juga membantu membersihkan sumur gali dan sumur bor agar kembali layak digunakan sebagai sumber air bersih.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja bakti insan pemasyarakatan. Biasanya kami lakukan di dalam lingkungan lapas, namun kali ini kami hadir langsung membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah,” ujar James di sela kegiatan.
Selain kerja bakti, Lapas Ciamis juga menyalurkan bantuan logistik berupa 200 kilogram beras, 20 dus mie instan, dua peti telur, lima dus air mineral gelas, serta lima dus air mineral botol.
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada perwakilan warga dan pemerintah desa untuk selanjutnya didistribusikan secara merata.
Menurut James, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan sosial, khususnya bagi mereka yang dalam waktu dekat akan mengakhiri masa pidana.
“Sebanyak 11 warga binaan yang ikut kegiatan ini sebentar lagi akan kembali ke masyarakat. Melalui kegiatan sosial seperti ini, mereka belajar berkontribusi dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama menjalani masa pembinaan, para WBP telah mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan, di antaranya barista, pengelasan, pembuatan alat pancing, hingga perbaikan sepeda motor. Bekal tersebut diharapkan menjadi modal kemandirian setelah bebas.
Selain membantu pemulihan pascabencana, kegiatan sosial ini juga diharapkan dapat membangun kepercayaan masyarakat serta mengurangi stigma negatif terhadap mantan warga binaan.
“Pemasyarakatan tidak hanya tentang pembinaan di balik tembok, tetapi juga bagaimana menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama saat kondisi darurat seperti bencana,” pungkas James.***











