CIAMISPOST.ID – Upaya Kabupaten Ciamis dalam membangun budaya bersih berbasis masyarakat mulai menarik perhatian serius pemerintah pusat. Bahkan, wilayah di Tatar Galuh itu kini disebut-sebut berpeluang besar menjadi contoh nasional dalam penanganan krisis sampah yang tengah dihadapi Indonesia.
Sorotan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik di Kabupaten Ciamis, Minggu (1/2/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari proses verifikasi lapangan dalam penilaian Penghargaan Adipura 2026.
Tidak seperti agenda kunjungan formal pada umumnya, Hanif memilih turun langsung ke kawasan pemukiman hingga pelosok desa. Ia ingin memastikan praktik pengelolaan sampah benar-benar berjalan di tingkat masyarakat, bukan sekadar tercatat dalam laporan administrasi.
Menurut Hanif, tantangan pengelolaan sampah di wilayah kabupaten jauh lebih rumit dibandingkan kota besar. Luas wilayah serta sebaran penduduk membuat sistem pengangkutan dan pengolahan membutuhkan pendekatan berbeda.
“Karakter wilayah seperti Ciamis menuntut keterlibatan warga sejak dari rumah. Karena itu saya ingin melihat langsung bagaimana realitanya di lapangan,” ungkapnya.
Hasil sidak tersebut justru memberikan kejutan positif. Di berbagai desa, masyarakat telah membiasakan diri memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri, meskipun dengan fasilitas terbatas.
Hanif menilai kebiasaan ini sebagai kekuatan utama Ciamis dalam membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Kesadaran warga di sini luar biasa. Di banyak daerah lain hal seperti ini belum terbentuk. Ini modal sosial yang sangat berharga,” ujarnya.
Meski demikian, ia masih menemukan persoalan pada sampah bernilai rendah yang kerap dibakar atau dibuang ke aliran sungai. Menurutnya, aspek tersebut perlu segera ditangani agar Ciamis dapat meraih predikat tertinggi Adipura Kencana.
“Semua indikator harus dipenuhi tanpa kompromi. Jika persoalan ini diselesaikan, Ciamis sangat layak berada di kasta tertinggi,” tegas Hanif.
Sementara itu, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan dalam penerapan teknologi pengolahan sampah skala besar. Namun, ia menekankan bahwa partisipasi warga menjadi kekuatan utama daerahnya.
“Kami belum bisa maksimal menggunakan mesin modern karena keterbatasan dana. Tapi kami fokus pada pemilahan dari sumbernya, yaitu rumah tangga,” jelas Herdiat.
Ia optimistis, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah pusat akan membawa Ciamis menuju target sebagai salah satu daerah terbersih di Indonesia pada 2026.
Penilaian Adipura tahun ini juga disebut semakin ketat. Tim evaluator bahkan melakukan wawancara langsung dengan kepala desa tanpa pendampingan pejabat daerah, demi memperoleh gambaran kondisi lapangan yang objektif.***











