CIAMISPOST.ID – Suasana ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta memanas saat Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, mencecar saksi dari pihak Google, Senin (26/1/2026).
Nadiem memberondong pertanyaan kepada Strategic Partner Manager Google for Education, Ganis Samoedra Murharyono, terkait rapat pembahasan yang diduga berkaitan dengan pengadaan laptop berbasis Chromebook. Dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop tersebut, Nadiem membantah keras klaim bahwa dirinya menyetujui pengadaan perangkat keras.
Perdebatan Soal Pertemuan Awal 2020
Ketegangan bermula ketika Nadiem meminta Ganis menjelaskan isi rapat dengan Colin Marson, Head of Education Google Asia Pacific. Nadiem menyoroti keterangan Ganis dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang menyebutkan adanya pertemuan antara Nadiem dan Colin pada Februari dan Maret 2020.
Nadiem bersikeras bahwa pertemuan hanya terjadi pada Februari 2020, sementara pertemuan bulan Maret tidak pernah terjadi.
“Saya ingin Bapak memikir lagi apakah Bapak yakin bahwa ini terjadi di bulan Maret. Karena, yang patut Bapak ketahui adalah pembicaraan kedua saya, setelah tadi sesuai yang ditampilkan Kejaksaan, ada bukti WhatsApp di mana saya dibilang ingin follow up setelah meeting Februari,” ujar Nadiem tegas.
Diketahui, dalam pertemuan Februari 2020 tersebut, Ganis tidak hadir secara langsung namun menerima informasi dari Colin. Berdasarkan informasi itu, Ganis menyebut bahwa Nadiem selaku menteri telah menyatakan akan menggunakan solusi Google for Education, termasuk Chromebook.
“Apakah Bapak yakin bahwa Colin Marson di bulan Maret menyebut bahwa saya sudah menyetujui Chrome atau tidak? Bapak boleh bilang tidak yakin, Bapak boleh bilang saya tidak tahu. Tapi, ini kesempatan terakhir Bapak,” cecar Nadiem.
Mendapat pertanyaan tersebut, Ganis menyatakan tetap pada keterangannya sesuai BAP.
Bantahan: Google for Education Bukan Chromebook
Nadiem menilai pernyataan Ganis hanya sebagian yang benar. Ia menegaskan bahwa persetujuan yang ia berikan adalah untuk penggunaan platform Google for Education, bukan pengadaan laptop Chromebook.
“Yang benar adalah setengah dari pernyataan Bapak. Bahwa Chrome for Education, karena pada saat itu masa Covid,” kata Nadiem.
Nadiem kembali menegaskan bahwa dalam perbincangannya dengan Colin, tidak ada pembahasan mengenai pengadaan perangkat keras Chromebook. Saat itu, kementerian tengah fokus mengupayakan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menghadapi pandemi Covid-19.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Chromebook. Pada saat itu, Google menjadi satu dari tujuh mitra kita untuk menyiarkan pembelajaran jarak jauh melalui Google Classroom,” pungkas Nadiem.











