Media Informasi Lokal dan Terkini
Indeks

BEI Bekukan 38 Emiten hingga Data Mayoritas Atap Rumah di RI

CIAMISPOST.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas dengan membekukan perdagangan saham 38 emiten, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data menarik terkait material atap rumah tangga di Indonesia. Kedua isu ini menjadi sorotan utama dalam rangkuman berita ekonomi dan nasional terkini.

BEI Suspensi 38 Emiten Akibat Free Float

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menjatuhkan sanksi suspensi perdagangan saham terhadap 38 perusahaan tercatat. Keputusan ini diambil lantaran emiten-emiten tersebut gagal mematuhi ketentuan kepemilikan saham beredar di publik atau free float, sesuai dengan Peraturan Bursa Nomor I-A.

Sebelum sanksi tegas ini diberlakukan, pihak bursa telah melayangkan Peringatan Tertulis III disertai denda sebesar Rp 50 juta. Namun, karena sanksi administratif tersebut tidak diindahkan, BEI melanjutkan dengan suspensi perdagangan di seluruh pasar (reguler dan tunai) hingga perusahaan terkait memenuhi kewajiban tersebut.

Langkah ini menegaskan komitmen BEI dalam menjaga transparansi, likuiditas saham, serta kepercayaan investor di pasar modal Indonesia. Suspensi akan terus berlaku sampai emiten memenuhi aturan dan melewati periode evaluasi.

Data BPS: Mayoritas Rumah di RI Pakai Genteng

Di sisi lain, wacana penggunaan genteng berbahan dasar tanah yang sempat disinggung Presiden Prabowo Subianto selaras dengan data lapangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, mayoritas rumah tangga di Indonesia memang masih mengandalkan genteng.

Tercatat sebanyak 57,93% atau sekitar 40,9 juta rumah tangga menggunakan genteng. Sementara itu, penggunaan atap seng menempati posisi kedua dengan persentase 31,48% atau sekitar 22,2 juta rumah tangga. Sisanya menggunakan material lain seperti asbes (7,85%), beton (1,63%), hingga bahan tradisional seperti bambu atau jerami.

Secara geografis, preferensi material atap menunjukkan perbedaan signifikan:

  • Wilayah Jawa: Mendominasi penggunaan genteng, dengan DI Yogyakarta mencapai 95,03% dan Jawa Timur 93,58%.
  • Luar Jawa: Atap seng lebih populer, mendominasi di Gorontalo (97,3%), Sulawesi Utara (96,23%), dan Sulawesi Barat (95,97%).

Disparitas ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor ketersediaan bahan baku alam, kondisi iklim, serta tingkat ekonomi masyarakat di masing-masing daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *