Media Informasi Lokal dan Terkini
Indeks

AS dan India Masuk RI Garap Harta Karun Mineral Kritis, Ini Rencananya

CIAMISPOST.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kabar positif terkait masuknya investasi asing raksasa. India dan Amerika Serikat (AS) dipastikan bakal terlibat dalam pengembangan mineral kritis di Indonesia, sebuah sektor yang kini dianggap sebagai harta karun incaran dunia.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyampaikan hal tersebut usai bertemu dengan Sandeep Poundrik, Secretary Ministry of Steel, Government of India. Menurut Yuliot, langkah strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka peluang investasi berkelanjutan yang berdampak ekonomi jangka panjang.

India Incar Industri Logam

Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua pihak membahas penyusunan nota kesepahaman (MoU) sebagai payung hukum kerja sama. Kesepakatan ini nantinya akan ditandatangani di tingkat Menteri.

“Kita membahas banyak aspek. Salah satu yang mereka tanyakan adalah bagaimana peningkatan kerja sama yang dituangkan dalam bentuk perjanjian atau MoU,” ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Poin-poin penting rencana kerja sama dengan India meliputi:

  • Pemerintah India akan mendorong perusahaan negaranya berinvestasi di Indonesia, khususnya sektor industri logam.
  • Pengembangan lanjutan dari industri logam menjadi peralatan dan barang modal (capital goods).
  • Kolaborasi riset dan inovasi untuk efisiensi pemanfaatan produk logam.

“Nantinya draft MoU dari India akan kami konsultasikan dengan Kementerian Luar Negeri untuk kemudian ditindaklanjuti penandatanganan antara Menteri ESDM RI dengan Menteri Logam India,” terang Yuliot.

Kesepakatan Strategis dengan Amerika Serikat

Selain India, Pemerintah Indonesia juga telah menyepakati kerja sama perdagangan mineral kritis dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini sejalan dengan perjanjian Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump di Washington D.C.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan strategi untuk memastikan mineral kritis tidak dijual dalam bentuk mentah. Investasi asing wajib difokuskan pada pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.

“Untuk mineral kritikal, kami sepakat memfasilitasi pengusaha AS untuk berinvestasi, dengan tetap menghargai aturan yang berlaku di negara kita,” tegas Bahlil.

Tetap Larang Ekspor Mentah

Bahlil menekankan bahwa masuknya AS tidak mengubah kebijakan hilirisasi. Pemerintah tidak berencana membuka keran ekspor barang mentah.

“Jangan diartikan kita membuka ekspor barang mentah. Maksudnya, mereka membangun smelter nikel atau tembaga di sini, setelah dimurnikan, baru hasilnya bisa diekspor ke Amerika. Biar clear, tidak ada salah interpretasi,” jelasnya.

Sebagai contoh sukses, Bahlil menyebut investasi Freeport Indonesia yang membangun fasilitas smelter tembaga senilai hampir US$ 4 miliar, salah satu yang terbesar di dunia.

Dua Skema Investasi untuk AS

Pemerintah menawarkan dua model kerja sama bagi perusahaan AS yang ingin menggarap nikel, emas, atau logam tanah jarang di Indonesia:

  1. Investasi Langsung: Perusahaan AS melakukan eksplorasi secara mandiri.
  2. Kemitraan (Joint Venture): Bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia.

Menutup keterangannya, Bahlil memastikan Indonesia menganut asas ekonomi bebas aktif. Kebijakan ini tidak eksklusif untuk satu negara saja, melainkan terbuka bagi seluruh mitra strategis global dengan prinsip keadilan (equity treatment).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *